
Ekstrakurikuler KSPM SMA Trinitas Lakukan Field Trip ke Jakarta
SMA Trinitas – KSPM SMA Trinitas Lakukan Field Trip ke Jakarta. Untuk pertama kalinya pada 10 Juni 2025, ekstrakurikuler KSPM (Kelompok Studi Pasar Modal) SMA Trinitas mengadakan kunjungan edukatif ke Jakarta, tepatnya ke BEI Jakarta dan Museum Bank Indonesia. Kunjungan ini menjadi momen bersejarah bagi para anggota ekstra, yang biasanya fokus pada pembelajaran dan pelatihan di kelas, karena mereka diberi kesempatan untuk memperluas wawasan di bidang sejarah dan ekonomi nasional.
Dengan semangat kebersamaan, para siswa antusias mengikuti tur dan berbagai aktivitas yang disiapkan pihak BEI dan museum, menjadikan kunjungan ini sebagai pengalaman belajar yang berbeda dan menyenangkan.
Awal Perjalanan ke Jakarta

Perjalanan 42 siswa dimulai pada pukul 05.00 dini hari. Seluruh peserta berkumpul di SMA Trinitas untuk berangkat bersama menggunakan bus yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Sekitar pukul 09.00 pagi, rombongan tiba di Jakarta dan langsung menuju ke Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Tiba di Gedung BEI Jakarta

Setibanya di gedung BEI Jakarta, kami disambut oleh petugas keamanan yang kemudian memandu kami masuk ke dalam gedung. Kami diarahkan menuju Ruang Galeri BEI yang terletak di bagian barat gedung. Di dalam galeri, kami dipandu oleh kakak pemandu, yang dengan antusias menjelaskan sejarah berdirinya Bursa Efek Indonesia serta hal-hal dasar mengenai sektor pasar modal, yaitu yang berkaitan dengan sektor non-bank, seperti saham, obligasi, deposito, dan sebagainya.
Di sana juga dijelaskan bahwa menabung berarti menyimpan uang di tempat yang aman untuk digunakan di masa depan, sedangkan investasi berarti menanamkan uang pada suatu aset dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan. Dijelaskan pula bahwa investasi bukanlah hal yang mendesak untuk dilakukan, karena uang yang digunakan untuk berinvestasi adalah uang dingin (yang tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari) dan bukan uang panas (digunakan untuk kebutuhan sehari-hari).
Penjelasan yang diberikan cukup mudah dipahami dan sangat menarik bagi kami yang sedang mempelajari dunia pasar modal. Di galeri tersebut, kami juga melihat berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan BEI, seperti dokumen kepemilikan saham, perangkat melihat saham zaman dulu, serta tampilan interaktif yang memberikan gambaran mengenai tingkat risiko dan keuntungan dari setiap sektor non bank.
Menjelajahi Ruang Auditorium BEI Jakarta

Setelah menyusuri galeri, kami diarahkan menuju ruang auditorium. Di sana, kami diperlihatkan deretan plakat dari perusahaan-perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Auditorium BEI Jakarta tampak sangat megah dan indah, dihiasi dengan sebuah patung besar berbentuk logo BEI yang menjadi pusat perhatian, serta layar-layar besar yang mengelilingi ruangan.

Layar-layar tersebut menampilkan data dan informasi terkini mengenai pergerakan saham di pasar modal, juga ratusan kode saham yang terus memutari layar di sekeliling ruangan. Kode saham adalah kode unik yang dimiliki oleh setiap saham yang tercatat di BEI. Kode saham terdiri dari 4 huruf yang mencerminkan nama perusahaan dan berbeda antara kode saham satu dan lainnya. Misalnya, Bank Central Asia (BCA) memiliki kode saham BBCA, sedangkan PT Indofood memiliki kode saham INDF.
Kunjungan kami di BEI Jakarta ditutup dengan sesi foto bersama di atas panggung auditorium sebagai kenang-kenangan. Setelah foto bersama, kami diberi waktu bebas untuk melihat-lihat seisi auditorium, foto-foto, bahkan ada yang membuat vlog. Hingga akhirnya sekitar pukul 10.00, kami menuju bus untuk melanjutkan perjalanan kami.
Museum Bersejarah Bank Indonesia
Tibalah saatnya kami mengunjungi Museum Bank Indonesia. Kami mengantre untuk mendapatkan tiket masuk. Kami lalu dipandu untuk memasuki museum. Mulanya pemandu menjelaskan mengenai cara membedakan uang rupiah asli dan palsu secara sederhana, yaitu dengan cara 3D, yaitu Dilihat, Diraba, dan Diambil – eh, maksudnya Diterawang.

Kami juga dibawa melihat sejarah perekonomian Indonesia sejak zaman kerajaan. Terdapat banyak rempah-rempah seperti pala, ada, dan lain-lain yang dipamerkan beserta dayung kapal dagang Jong Java sebagai bukti bahwa Indonesia sejak dulu memiliki kehidupan ekonomi yang baik sebagai penghasil komoditas rempah-rempah berkualitas, hingga akhirnya ditaklukan oleh VOC.

Jangan salah, tanpa kehadiran VOC, Indonesia belum tentu memiliki mata uang seperti sekarang. VOC mengenalkan mata uang Gulden ke masyarakat Indonesia. Lalu, sebagai bentuk perlawanan dan memerdekakan diri dari ikatan VOC, Indonesia membuat mata uang pertamanya yang disebut Oeang Republik Indonesia dengan pecahan pertama Rp 100, serta terbit pula Oeang Republik Indonesia Daerah yang kemudian dikenal sebagai ORI-ORIDA. Mata uang terus berkembang hingga kini menjadi rupiah. Pemandu juga menjelaskan bahwa pada tahun 1828, didirikan De Javasche Bank (DJB) yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Bank Indonesia pada tahun 1953.
Selanjutnya kami dijelaskan mengenai masa krisis moneter di mana Bank Indonesia menutup 16 bank umum yang menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap BI. Masyarakat lalu melakukan penarikan uang besar-besaran, merusak fasilitas perbankan, hingga menjadi salah satu peristiwa dalam kerusuhan tragedi 1998. Setelah itu ditampilkan pula perjalanan Bank Indonesia Pasca Krisis Moneter, cara BI membenahi perekonomian, serta fokus ulang peran BI.

Kami juga dibawa melihat ruangan yang memuat foto-foto Gubernur Bank Indonesia, sejak masih berupa DJB hingga kini Bapak Perry Warjiyo yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Ruangan lain yang tak kalah keren adalah Ruangan Emas Moneter, serta ruangan-ruangan yang memuat berbagai uang yang berkembang di Indonesia. Bahkan, dipamerkan pula mata uang Kerajaan Majapahit yang dikenal sebagai uang gobog. Kami melihat banyak sekali bentuk uang, mulai dari uang logam hingga kertas, dengan berbagai ukuran dari yang hampir sebesar BPKB kendaraan hingga yang seukuran dengan uang rupiah sekarang. Ada pula uang khusus seperti rupiah pecahan Rp 75.000 yang dicetak sebanyak 75 juta lembar sebagai peringatan 75 tahun kemerdekaan RI.

Selepas tur di Museum Bank Indonesia, kami memasuki sesi foto bersama di photobooth yang disediakan oleh BI. Setelah itu kami kembali ke bus untuk menempuh perjalanan pulang ke Kota Bandung. Hingga kira-kira pukul 18.15, rombongan KSPM telah tiba di SMA Trinitas dengan selamat. Itulah kegiatan KSPM SMA Trinitas Lakukan Field Trip ke Jakarta selama satu hari ke Jakarta. Banyak yang dapat kami pelajari dan bermanfaat bagi kehidupan kami.
Tunggu kegiatan kami selanjutnya, ya!
Sayonara!
Penulis: Alexis F.H & Celine F (Siswi SMA Trinitas)
Tag:Bursa Efek Indonesia, KSPM


