
Dunia Kerja Berubah, Trinitas Edu Fair di Bandung Ajak Siswa Membaca Peluang Karier
Laporan Wartawan Tribun Jabar
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Seli Andina Miranti
TRIBUNAJABAR.ID, BANDUNG – Memilih jurusan kuliah kini menjadi bagian penting dari persiapan siswa menghadapi dunia kerja yang terus berubah. Perkembangan teknologi dan kemunculan berbagai profesi baru membuat siswa perlu melihat lebih jauh dari sekadar minat dan pilihan kampus, termasuk mempertimbangkan prospek karier dari jurusan yang akan dipilih.
Gambaran tentang pilihan tersebut coba diberikan SMA Trinitas di Kota Bandung, Jawa Barat, melalui Trinitas Edu Fair, Career Day, dan Expo Perguruan Tinggi. Kegiatan ini mempertemukan siswa dengan berbagai perguruan tinggi untuk mengenal beragam program studi sekaligus mendapatkan gambaran mengenai peluang karier setelah lulus.
Guru Bimbingan dan Konseling SMA Trinitas, Petrus Ridwan Agus Hendratno, mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar menjadi ajang promosi kampus.
“Perubahan dunia pendidikan tinggi berlangsung cukup cepat. Perguruan tinggi kini mulai membuka program-program studi yang disesuaikan dengan kebutuhan masa depan, termasuk bidang yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI),” kata Ridwan saat ditemui di SMA Trinitas, Jalan Kebon Jati, Kamis (27/8/2026).
Ia mencontohkan adanya perguruan tinggi yang mulai membuka jurusan khusus AI. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kampus juga berusaha merespons perubahan kebutuhan industri.
“Universitas itu juga berkembang untuk memenuhi segmen pasar, apa sih yang dibutuhkan ke depan dan sekolah mewadahi,” ucapnya
Hal tersebut menjadi penting karena siswa yang saat ini duduk di bangku SMA baru akan memasuki dunia kerja beberapa tahun mendatang. Tidak ada yang bisa memastikan secara persis pekerjaan dan kompetensi apa yang paling dibutuhkan ketika mereka lulus kuliah.
“Empat tahun sampai lima tahun ke depan kita nggak tahu apa yang terjadi. Makanya dipersiapkan,” ujar Ridwan.
Dalam Trinitas Edu Fair, siswa tidak hanya datang melihat deretan booth perguruan tinggi. Pada hari pertama, mereka mengikuti presentasi kampus secara bergiliran.
Ridwan mengatakan 15 perguruan tinggi dari sejumlah kota turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Selain kampus dari Bandung, terdapat pula perguruan tinggi dari Jakarta, Yogyakarta, dan kota lainnya.
Sejumlah perguruan tinggi yang menjadi pilihan dan menarik perhatian siswa antara lain Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Universitas Kristen Maranatha, dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang di bawah naungan Kompas Gramedia Group.
Kehadiran berbagai kampus tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk membandingkan pilihan program studi, karakter pendidikan, hingga prospek karier dari bidang yang diminati.
Sementara pada hari berikutnya, kegiatan dikembangkan dalam format Expo Perguruan Tinggi yang menjadi ruang bagi siswa dan orang tua untuk berkonsultasi mengenai biaya pendidikan, peluang beasiswa, hingga kemungkinan melanjutkan studi ke luar negeri.
Ridwan mengatakan, pada kegiatan tersebut juga diperkenalkan peluang pendidikan ke sejumlah negara, termasuk Taiwan dan China. Informasi mengenai beasiswa dan berbagai bentuk dukungan pendidikan menjadi salah satu hal yang menarik bagi siswa.
Michaela, siswi kelas 12 SMA Trinitas, misalnya, sudah menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Ia bahkan telah mendaftar dan dinyatakan diterima pada program studi Aktuaria.
Namun, ia tetap memanfaatkan Edu Fair untuk menggali informasi lebih jauh mengenai kampus dan pilihan pendidikan lainnya.
“Saya jadi mendapatkan informasi baru mengenai sejumlah perguruan tinggi yang sebelumnya nggak tau termasuk perbandingan program dan biaya pendidikan,” ucap Michaela.
Pilihan Michaela terhadap Aktuaria bukan tanpa alasan. Ia memang memiliki ketertarikan pada matematika dan lebih menikmati aktivitas menghitung serta menganalisis dibandingkan menghafal.
“Aktuaria berkaitan dengan analisis risiko, peluang, dan data, terutama untuk membantu memperkirakan kondisi keuangan dan risiko di masa mendatang. Saya suka matematika, suka ngitung, jadi saya lebih prefer ngitung daripada menghapal,” ujarnya.
Meski sudah memiliki tujuan, Michaela mengaku tetap menyimpan kekhawatiran mengenai masa depan profesinya. Ia mengetahui jumlah aktuaris di Indonesia masih relatif terbatas, sementara kebutuhan terhadap profesi tersebut cukup besar.
“Saya kuliah empat tahun juga. Jadi lima tahun ke depan apakah sudah banyak gitu? Jadi agak takut juga,” katanya.
Di sisi lain, Michaela menyadari bahwa perkembangan teknologi dan AI akan menjadi bagian dari dunia kerja yang harus dihadapi generasinya.
“Saya juga bersiap mempelajari keterampilan teknologi, termasuk coding, yang akan diperoleh selama kuliah,” ucapnya.
Berbeda dengan Michaela, Monica yang masih duduk di kelas 10, mengaku masih kebingungan menentukan jurusan karena memiliki banyak ketertarikan.
“Setelah melihat bagaimana program-program yang diadakan dari masing-masing university yang beragam, itu jadi kayak, ‘Oh, menarik juga nih ke sini,” kata Monica.
Monica pun menargetkan semester pertamanya menjadi masa untuk mengenali passion dan menentukan bidang yang benar-benar sesuai dengan dirinya.
“Aku tertarik pada bidang akting tapi latar belakang keluarga banyak yang memiliki bisnis secara turun-temurun jadi aku mempertimbangkan jurusan manajemen,” ucapnya.
Untuk pendidikan tinggi, Monica bahkan terbuka terhadap kemungkinan kuliah di luar negeri. Keinginannya bukan hanya untuk mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga belajar hidup mandiri jauh dari orang tua.
Berita ini Terbit di Tribun Jabar
https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1182767/dunia-kerja-berubah-trinitas-edu-fair-di-bandung-ajak-siswa-membaca-peluang-karier


