
Terus Bergeser Peminatan Jurusan Perkuliahan
BANDUNG, (PR).- Setiap tahun terjadi pergeseran minat terhadap jurusan di perkuliahan. Bisa dibilang, peminatan jurusan di perkuliahan bergantung pada tren.
Guru Bimbingan Konse ling (BK) sekaligus Seksi Acara Edufair SMA Trinitas 2026 Petrus Ridwan Agus Hendratno mengungkapkan, berdasarkan pengamatan se kolah, tren peminatan jurus an terus berubah. Misalnya, dua tahun lalu bisnis kreatif dan manajemen, kemudian pada 2025 jurusan teknik lebih diminati.
“Di tahun ini, trennya bergeser ke teknologi digital ka rena maraknya kecerdasan buatan (AI). Bahkan, ada kampus yang menawarkan spesifik jurusan AI sebagai kreator, bukan sekadar pengguna,” tutur Ridwan di SMA Trinitas, Jalan Kebon Jati, Kota Bandung, Kamis (27/ 8/2026).
Ridwan menyebutkan Edu fair SMA Trinitas 2026 dilaksanakan Kamis dan Jumat (27-28/ 8/ 2026). Pada hari pertama, ada 15 perguruan tinggi swasta (PTS) yang meng gelar presentasi di depan murid kelas X sampai XII.
Lalu, hari ini, 25 kampus mengikuti pameran pendidikan tinggi. Mereka membuka konsultasi dengan orangtua dan siswa. “Kami mengundang PTS antara lain dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Semarang. Kalau dari perguruan tinggi ne geri, kami mengundang alumni untuk berbagi peng alaman. Ada pula konsultan pendidikan luar negeri yang menawarkan peluang studi dan beasiswa, khususnya di Taiwan dan Tiongkok,” ungkap Ridwan.
Menurut Ridwan, edufair memang dirancang secara khusus untuk membekali para siswa menuju jenjang perguruan tinggi. Kelas X merupakan masa krusial bagi siswa untuk menetapkan tujuan, sedangkan kelas XII difokuskan pada pemantapan pi lihan jurusan dan persiapan ujian akhir.
Salah seorang siswi kelas X Monica mengaku dengan ada nya edufair dia mendapat gambaran tentang jurusan yang akan dia pilih saat lulus SMA nanti. Menurut Monica, mumpung masih semester I kelas X, dia masih mencari passion.
Proses panjang
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Dr Miryam A Sigarlaki mengatakan, mempersiapkan anak memasuki perguruan tinggi sering kali menjadi fase yang memicu ke galauan, baik bagi siswa maupun orangtua. Padahal, persiapan ini sejatinya bukan sekadar menentukan universitas atau jurusan, melainkan proses panjang dalam mengenali jati diri dan potensi anak yang sesungguhnya.
“Persiapan kuliah yang matang harus berakar pada pe mahaman anak terhadap di ri nya sendiri. Kesiapan mental menghadapi perubahan di lingkungan belajar sangat pen ting. Anak perlu dibantu untuk memahami siapa diri nya, apa potensinya, serta mengenali kekuatan dan ke lemahannya,” kata Miryam.
Miryam menekankan, proses eksplorasi diri tidak perlu menunggu hingga anak du duk di bangku kelas XII SMA. Pengenalan diri ideal nya sudah mulai dideteksi se jak masa SMP. Misalnya, dengan mengajukan pertanya an sederhana kepada anak, seperti aktivitas apa yang di sukai, pelajaran yang menarik minat, dan apa yang menjadi kekuatan mereka.
Terkait penentuan jurusan, Miryam menegaskan, orang tua tidak disarankan bersikap ekstrem, baik itu terlalu membebaskan anak atau ber sikap otoriter dengan memasakan kehendak pribadi nya. Posisi yang ideal adalah orangtua sebagai mitra dalam proses pengambilan ke putusan. “Anak tetap perlu memiliki ruang untuk menentukan pilihannya. Soal nya, ia yang akan menjalani kehidupan secara mandiri kelak, namun tetap butuh pendampingan orang dewasa,” ujar Miryam. (Windy Eka Pramudya)***


