
Cornelius Calvin Saputra Lolos ke Tingkat Provinsi Olimpiade Geografi (OSN-P)
Pernahkah kamu membayangkan lolos dalam sebuah olimpiade menuju babak selanjutnya? Senang karena perjuanganmu dalam babak pertama berhasil? atau mungkin kamu cemas untuk babak selanjutnya? Itulah yang dirasakan Cornelius Calvin Saputra.
Selasa, 15 Juli 2025, hari yang awalnya terasa biasa-biasa saja bagiku. Namun semuanya berubah sekejap. Sejenak notifikasi ponselku berdering. Kulihat dan kubaca ternyata merupakan pesan dari temanku William.
“Selamat yahhh” ucap William singkat.
Sejenak hati dan pikiranku menjadi tidak sinkron, satu mulai berdebar bahagia, satu lagi mulai berupaya melogiskan makna dari kalimat tersebut. Bukan, hari itu saya tidak berulang tahun. Setelah kubaca lebih seksama, ternyata saya lolos sebagai finalis dalam olimpiade tingkat provinsi
“HAH? LOLOS KE BABAK BERIKUTNYA?”
Kubolak-balikkan ponselku tanda tidak percaya akan apa yang William katakan. Sepanjang kukenalnya, William ini memang jahil orangnya. Tentu saja ku tak langsung percaya pada dirinya. Satu per satu pertanyaan muncul di benakku dan langsung kuketikkan dalam ponselku.
“Serius, Wil? Kamu tahu dari mana?” ucapku bertanya-tanya. William hanya membalas dengan sebuah screenshot yang membuktikan perkataannya.
Eh betul juga apa yang dikatakan William kali ini, ternyata saya benar-benar lolos ke tingkat provinsi dalam bidang geografi. Satu hal yang tak kupikirkan adalah kenyataan bahwa saya merupakan satu-satunya finalis tingkat provinsi dari SMA Trinitas. Ya, sekali lagi kutekankan, satu-satunya! Sontak rasa bahagia tersebut berubah menjadi rasa cemas yang membelenggu. Bagaimana ini? Apakah artinya saya harus berjuang sendirian kali ini? Teman-temanku sudah gugur dalam rintangan sebelumnya.
Terlepas dari kecemasan itu, peristiwa ini adalah momen bersejarah bagi saya dan SMA Trinitas Bandung. Peristiwa yang mendobrak batas sembari membuktikan kepada dunia tentang eksistensi SMA Trinitas dan kemampuannya siswa-siswinya.
Hari Pelaksanaan Lomba
Kamis, 21 September 2025. Cuaca terasa lebih dingin hari itu. Entah hanya perasaanku atau fakta, namun satu hal pasti, hari itu adalah hari pelaksanaan seleksi Olimpiade Tingkat Nasional. Kali ini seleksi tersebut dilaksanakan di SMAN 3 Bandung.
Kutengok jam kelas saat itu, jam pun menunjukkan pukul 11.30 WIB. Artinya saya harus segera bergegas berangkat menuju lokasi seleksi di Jl. Belitung No.8 Bandung. Berbekalkan pendampingan oleh Pak Putra, kami bergegas berangkat menuju SMAN 3 dengan menggunakan taksi online.
Sesampainya di lokasi, terkejut rasanya. Maklum, bagi seseorang yang baru pertama kali berkunjung rasanya terkejut dengan besarnya bangunan khas kolonial belanda tersebut. Setelah tersesat beberapa kali dan memutuskan bertanya kepada petugas satpam sekolah, akhirnya kami ditunjukkan ke arah yang tepat. Lab Komputer SMAN 3 Bandung.
Segera saya menuju ruangan yang dimaksud dan mempersiapkan perangkat sesuai ketentuan yang diminta. Laptop berisikan baterai penuh, serta handphone di sampingku yang mengarah ke layar laptop. Selanjutnya, kubuka website pengerjaan soal dan melakukan log in dengan id serta password yang sudah diberikan pada hari sebelumnya.

(Kondisi Ruang Ujian di Ruang Lab Komputer SMAN 3 Bandung, Foto: Arsip Pribadi)
Jam telah menunjukkan pukul 13.00 tepat, pengawas ruang ujian pun mempersilahkan kami untuk memulai pengerjaan soal. Selama tiga jam penuh, kami berjuang menjawab satu per satu soal yang diberikan. Sistem penilaian kali ini adalah memberikan poin dua (+2) bila benar, poin minus (-1) jika salah, dan poin nol (0) bila tidak dijawab. Maka kami dituntut untuk menjawab dengan hati-hati guna mencegah minus yang menurunkan perolehan skor akhir.
Satu per satu soal kukerjakan dengan cermat dan hati-hati. Terima kasih kepada bapak-ibu guru SMA Trinitas yang gemar memberikan soal paragraf yang panjang, mataku ini seolah-olah sudah mengerti dan lebih tabah untuk membaca soal-soal olimpiade itu yang sangat panjang.
Soal olimpiade bidang geografi tahun ini banyak yang merupakan paragraf panjang bertemakan tentang isu-isu lingkungan serta pemanasan global. Soal-soal yang diberikan juga tidak menuntut adanya hafalan yang kuat mengenai materi, tetapi lebih menuntut adanya analisis yang mendalam dalam mengerjakan setiap soalnya yang tentu masih terkait erat dengan bidang geografi. Soal pun tidak luput dari hitung-menghitung. Satu hal yang “menarik” adalah ketika kami diminta menghitung nilai dari kerugian gempa bumi di Jepang dengan rumus yang panjang dan rumit yang sudah tertera pada soal.
Pukul 16.00, perjuangan selama tiga jam itu pun selesai. Kami meninggalkan ruangan sembari membawa barang-barang kami masing-masing. Tak lupa, saya berfoto di halaman depan SMAN 3 Bandung, tempat plakat gedung diletakkan. Dibantu dengan tangkapan gambar oleh Pak Putra, Foto momen bersejarah pun terbentuk dan foto tersebut dapat anda lihat sendiri pada bagian awal artikel ini.
Penutup
Pengalaman sebagai finalis Olimpiade Geografi telah mengajari saya banyak hal. Lebih dari sekadar ketekunan dalam belajar dan mempersiapkan diri, perjalanan ini juga memberikan pemahaman baru tentang hidup. Saya menyadari bahwa hidup adalah misteri Ilahi yang tak pernah bisa ditebak. Semoga kisah perjalanan ini bisa memotivasi para pembaca untuk terus berjuang meraih prestasi gemilang. Teruslah melangkah dan libatkan sang Penyelenggara Ilahi dalam setiap langkahmu. Seseorang pernah berkata, “Manusia berusaha, Langit yang menentukan.”
(Cornelius Calvin Saputra, ‘08, Siswa Kelas XI SMA Trinitas Bandung)
Tag:calvin, cornelius, Geografi, Olimpiade, OSN, OSN Provinsi, OSN-P, siswa berprestasi


